YAHUKIMO,papuadeadline.com – Kelompok Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) Komando Daerah Pertahanan (Kodap) XVI Yahukimo mengaku bertanggung jawab atas pembakaran gedung SMK Negeri 2 Dekai yang terjadi pada Sabtu, 14 Februari 2026, sekitar pukul 15.00 WIT.
Juru Bicara TPNPB Sebby Sambom, Minggu (15/2/2026) mengatakan bahwa aksi tersebut dilakukan oleh pasukan Batalion Sisibia di bawah komando Mayor Yosua Sobolim bersama Komandan Operasi Kempes Matuan.
Menurut klaim TPNPB, pembakaran dilakukan karena sekolah-sekolah di Papua diduga digunakan oleh aparat militer Indonesia yang menyamar sebagai tenaga pendidik.
Mereka merujuk pada pernyataan Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto beberapa bulan lalu yang menyebut bahwa tenaga kesehatan dan guru di Papua merupakan anggota TNI. TPNPB menyatakan tindakan ini untuk membatasi aktivitas belajar-mengajar guna mencegah korban jiwa di kalangan pelajar sebelum serangan lanjutan terhadap aparat militer yang disebut bekerja sebagai guru di Yahukimo.
Imbauan Keras kepada Guru, Tenaga
Mereka juga menyampaikan imbauan agar guru-guru, tenaga kesehatan, serta warga imigran Indonesia segera meninggalkan wilayah operasi TPNPB Kodap XVI Yahukimo. Mayor Yosua Sobolim disebut menyatakan tidak ada jaminan keamanan bagi mereka yang dikirim oleh Panglima TNI. Jika imbauan ini tidak diindahkan, TPNPB mengancam akan melakukan “eksekusi mati” karena menganggap mereka sebagai agen intelijen militer atau Komcad (Komponen Cadangan) TNI yang memasuki wilayah perang.
TPNPB juga menuding bahwa warga imigran Indonesia yang bertahan di tengah konflik bersenjata merupakan bagian dari agen intelijen atau Komcad, sehingga harus dieksekusi dalam operasi di 36 Kodap seluruh Tanah Papua.
Mereka mengimbau pembakaran dan pemusnahan kios, kost, warung makan, gedung pemerintah, serta bangunan milik yang diduga digunakan aparat untuk kejahatan terstruktur terhadap orang asli Papua.
Konteks Konflik di Yahukimo
Wilayah Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan, dalam beberapa bulan terakhir sering menjadi lokasi kontak senjata antara TPNPB Kodap XVI dan aparat keamanan Indonesia. Beberapa insiden sebelumnya termasuk pembakaran fasilitas pendidikan lain, penembakan, serta pengakuan korban jiwa dari kedua belah pihak. Konflik ini telah menyebabkan pengungsian warga sipil.

Be the first to comment